Konsep Dasar dan Pendekatan Aplikasi Praktis

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
Konsep Dasar dan Pendekatan Aplikasi Praktis
oleh
Dr. Mubariq Ahmad WWF-Indonesia & Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia


1. Pendahuluan dan Ringkasan

Lebih dari 30 tahun lalu, laporan Limits to Growth menimbulkan kontroversi luas secara internasional karena mengingatkan masyarakat dunia tentang kemungkinan terlampauinya daya (carrying capacity) bumi  bagi pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan manusia yang bertambah terus jumlahnya. Sejak 2003, situasi overshoot, yaitu terlampauinya

daya dukung bumi untuk mendukung kebutuhan konsumsi manusia secara global, benar-benar menjadi kenyataan1. Secara total, sekarang manusia menggunakan sekitar satu seperempat kali kapasitas biosphere bumi untuk mendukung kehidupan secara berkelanjutan. Secara efektif, kemampuan bumi untuk memperbarui diri (regenerative capacity) tidak lagi mampu mengimbangi kebutuhan manusia. Manusia mengubah sumberdaya menjadi sampah lebih cepat dari kemampuan alam mengubah sampah kembali menjadi sumberdaya. Manusia tidak lagi hidup sekedar dari “bunga” yang dihasilkan oleh alam, tetapi telah mulai me”makan” modal yang disediakan alam. Figur-1 di bawah ini memberikan gambaran tingkat pemanfaatan biosphere oleh dalam proksi ukuran footprint yang merupakan representasi dari tingkt pemanfaatan kapasitas photosynthesis bumi.
Perekonomian global dan jumlah penduduk terus tumbuh sementara ukuran bumi tetap sama. Kemajuan teknologi selama ini memang terbukti mampu membantu kita memperpanjang masa pemanfaatan sumberdaya, tetapi kecepatan tumbuh konsumsi manusia jauh melebihi kemampuan teknologi untuk mengejarnya. Perdagangan sejauh ini memberikan kesempatan bagi negara-negara kaya untuk memanfaatkan kapasitas produktif negara-negara yang tingkat konsumsinya masih rendah. Eropa, misalnya, dengan populasi sebesar 7% dari seluruh penduduk dunia, menggunakan 17% dari kemampuan regeneratif bumi2. Selisihnya tentu saja berasal  dari negara-negara surplus kapasitas yang dalam kenyataannya juga negara-negara yang masyarakatnya masih berusaha meningkatkan kesejahteraan ke tingkat minimum. Salah satu dampak utama dari overshoot ini ialah berkurangnya kemampuan bumi untuk memproduksi, dan menurunnya keanekaragaman hayati secara masif.

Dengan segala keterbatasan sumberdaya alam yang berhadapan dengan pertumbuhan kebutuhan tersebut, dari kajian sejarah runtuhnya kebudayaan bangsa-bangsa besar, Jared Diamond kemudian menyimpulkan bahwa bagi suatu bangsa untuk berkelanjutan atau hancur, merupakan pilihan dari masyarakat itu sendiri.
Dengan latar belakang informasi di atas, materi ini mengajak Anda untuk mencoba memahami berbagai masalah pembangunan di Indonesia dan konsep serta aplikasi pembangunan berkelanjutan di tingkat kebijakan dan dunia usaha.
Setelah mendiskusikan beberapa perspektif sejarah yang dianalisis oleh Diamond, kita akan melihat berbagai tantangan pembangunan di Indonesia dengan mengangkat beberapa kasus yang mencerminkan isu-isu konkrit seputar keberlanjutan pembangunan. Pada bagian berikutnya kita akan membahas konsep dan prinsip-prinsip dasar pembangunan berkelanjutan berikut beberapa perspektif kritis yang perlu dimiliki eksekutif dan legislator dalam memahami dan menyikapi aplikasi konsep ini. Kita akan membahas tri-lemma profit-people-planet sebelum membicarakan pendekatan makro dan mikro dari aplikasi pembangunan berkelanjutan. Menuju akhir materi kita akan membahas pentingnya “getting the incentive structure right” sebagai alternatif dari “getting the price right” dan beberapa aspek penting good governance yang menunjang upaya pembangunan berkelanjutan. Materi akan diakhiri dengan beberapa refleksi dan catatan penutup.